Bel
berbunyi waktu pelajaran dimulai. Jam pertama dimulai dan pelajaran pertama .tak
berapa lama guruku datang dia menghampiri kelas kami. “Sekarang bapak mengajar disini kan?” tanyanya kepada
kami. Dan temanku yang bernama Cerly menjawab.”Bukan deh pak. Sengingat saya
kelas kita tu pelajaran pertamanya adalah biologi terus pelajaran keduanya baru
pelajarannya bapak. ” jawab Iman kepada guruku.. setelah Cerly berbicara
seperti itu aku dan Lissa teman sebangku ku bertanya-tanya. “Yoh din, bukannya
kebalik ya? Perasaan tadi malam aku lihat di jadwal pelajaran ku, jam pertama
pelajaran kita kan seni budaya, baru abis itu kita biologi. ” Lissa teman
sebangku pun terheran-heran,dengan
perkataa Cerly, apalagi aku. Secara
tiba-tiba langsug berteriak”Bohong pak sekarang pelajaran pak guru. Tadi yang
dikatakan Cerly itu bohong pak kalua tidak percaya coba bapak liat sendiri
jadwal pelajaran ini.” Setelah pak guru melihat jadwal iya langsung memarahi Cerly.
“Kenapa kamu bohong sama bapak? Kalau memang kamu sengaja berbohonh sama bapak
karena kamu malas untuk mengikuti pelajaran bapak, silahkan kamu sekarang
keluar dari kelas ini.!” Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi Cerly langsung
keluar dari kelas. Aku bingung terhapadnya. Ia tanpa ada pembelaan dari dirinya, ia langsung
saja meninggalkan pak guru. Lalu aku dan Lissa bingung kenapa Cerly seperti itu
tidak biasanya Cerly seperti itu.
Cerly adalah anak yang baik dan aktif
dalam segala pelajaran dan ia sopan terhadap semua guru., tapi mengapa sekarang
ia menjadi seperti bukan Cerly . ia sekarang labih banyak diam dan sekarang
lebih suka membantah omongan guru.
Dengan
muka yang masih terlihat marah dengan kejadiaan tadi, pak guru tetap
melanjutkan mengajar. Berbunyi menandakan bahwa jam pertama telah usai. Teman-teman
ku dan aku langsung senang karena pelajarannya telah usai. tapi kesenangan kami
tidak terbayar lama, yah seperti biasa kami di beri tugas rumah. “Bapak akan
member kalian tugas, tolong kalian membuat kelompok yang isi kelompoknya ada 16
orang. Bapak minta untuk kalian semua membuat sebuah drama yang dimana kalian
akan mendapatkan nilai keterampilan saat melakukan drama ini.” Ujar pak guru
terhadap kami. Teman ku yang bernama Rika yang memiliki rambut yang panjang
tapi hidungnya enggak panjang. mengacungkan tangannya ke atas, ia ingin bertanya kepad apak guru “Pak kalau
untuk temanya kita tentuin sendiri? Terus kalau misalnya kita kekurangan
pemain, terus pemainnya punya dua peran endak apa-apa pak?” Tanya Rika ke pak
guru. Pak guru langsung menjawab pertanyaan dari Rika tadi “Gini ya anak-anak,
kalau untuk temanya kita serempakan saja dengan kelas-kelas yang lain, kalau
temanya itu adalah legenda. Dan untuk pertanyaannya yang kedua tadi, kalua
misalnya kejadiannya tadi, bisa saja asal jangan menganggu dialognya saja.
Bagaimana apa bisa di mengerti?”. Teman –teman ku serempak menjawab “mengerti pak.”
Dan lagi-lagi Rika mengacungkan tangannya lagi “terus kapan kita di beri waktu
untuk latihannya pak?” dengan menghelaikan napasnya pak guru langsung menjawab
“kalian bapak berikan waktu untuk latihan mulai dari hari ini sampai dengan
akhir bulan Oktober ini.” Kat pak guru
terhadap kami. Lalu kami dengan seremoak menjawabnya “iya pak.” Dengan akhir
dari jawaban kami tadi pak guru langsung berpamitan dan pergi meninggalkan
kelas. Dan imam saat pak guru keluar dari kelas ia langsung masuk ke kelas.
Setelah
pak guru seni budaya itu keluar kami langsung heboh untuk mencari kelompok
kami. 1 kelas itu diminta untuk menjadi 2 kelompok. Setelah kami menentukan
kelompok kami langsung mementukan judul drma apa yang kami ingin mainkan. Kami
sudah lama berfikir sampai bel keluar main pun kami belom mendapatkan judul
drama apa yang ingin kami main kan.
Aku,
Lissa dan teman-teman ku yang lain mendengar bel keluar main berbunyi kami
langsung memasukan buku kami dan langsung mejugu kantin. “din, kantin yuk, aku
dah laper banget nih.” Ujar Lissa terhadap ku. “oke, aku udah laper juga nih.”
Jawabku ke Lissa. Di perjalanan ke kantin kami bertemu Cerly. Kami melihatnya
dengan raut muka yang sedih. Tidak seperti biasanya ia seperti itu. “Cer ,kamu
kenapa? Kamu masih kesel sama pak guru? ” Tanya ku terhadap Cerly. “udah lah
ngapain kalian mikirin aku, lebih baik kalian pergi aja!” dengan nada yang agak
keras Cerly mengusir kami, dan ia langsung berlari meninggalkan kami. Kami
semakin bertanya-tanya ada apa dengan Cerly benar-benar tidak biasanya ia
seperti itu. “udahlah din, ngapain kamu pikirin dia lebih baik kita ke kantin
aja keburu bel.” Ucap Lissa kepada ku. Aku langsung mengangguk tanpa berbicara
apa pun. Setelah kami membeli makanan di kantin kami langsung pergi ke kelas.
Diperjalan
ke kelas kami bertemu oleh guru seni budaya “kalian kelas 11 C kan?” Tanya guru
itu terhadap kami. “iya, kami kelas 11 C, ada apa ya pak guru memanggil?” Tanya
kami kepada guru seni budaya itu. “gini tadi pas saya dikelas saya belum kasih
tau ya kalau saya minta nama- nama anggota kelompok dan ia berperan sebagai
apa?” Tanya guru itu terhadap kami. “belum denh pak, tadi bapak tidak ada
berbicara seperti itu.” Jawab kami. “o tidak ada ya, kalau gitu saya minta
tolong sama kalian untuk samapai kan pesan bapak tadi ke teman-teman kami,
entar kalau udah jadi kalian taruh aja kertas lembarannya di meja bapak.” “baik
pak, sekarang kami permisi ke kelas dulu ya pak.” Kami langsung pergi menuju
kelas.
Sesampainya
di kelas aku langsung memberi tau pesan yang pak guru sampaikan terhadap kami.
Setelah itu aku dan Lissa langsung kembali ke bangku kami untuk makan makanan
yang kami beli tadi di kantin. Tak beberapa lama teman-temanku langsung
mengumpulkan nama-nama tersebut, tapi kelompokku masih bingung dengan apa yang
kami mau tampilkan. Aku juga bingung, aku kirain teman-teman kelompok ku udah
pada cari, eh ternyata mereka juga masih bingung. Tanpa berpikir panjang lagi,
aku tinggalkan makanan ku dan lansung membuka hp untuk mencari legenda-legenda
tersebut di internet. Tak sampai lama aku langsung memutuskan untuk membawa
kami drama yang judulnya “Tangkuban Perahu”. Setelah aku mencarinya aku
langsung meminta tolong ke pada Rika untuk mementukan siapa saja yang berperan
sebagai siapa. Dan aku langsung melanjutkan makanan ku yang sempat tertunda
tadi. “Din, Cerly tu jadi masuk ke kelompok kita?” Tanya Rika kepada ku. “yah
jadi lah, dia kan memang kelompok kita dari dulu.” Jawab ku. “o yaudah deh
kalau gitu aku Cuma mau Tanya aja kok.” Ucap Rika. “Nih din udah jadi
nama-namanya. Dimana aku mau kumpulin?” Tanyanya kepada. “langsung aja deh kamu
taruh di mejanya pak guru. Sekalian sama yang ini yah.” Aku langsung
menyodorkan kertas lembaran yang punya kelompok yang lain. “oke deh kalau gitu,
aku langsung ke mejanya pak guru ya.” Ucap Rika.
Bel
berbunyi tanda waktu keluar main abis. Kami langsung membereskan sisa makan
tadi. Saat membereskan makanan tiba-tiba Cerly dating dan duduk di bangkunya
dengan berlinang air mata. Kami tak mengerti kenapa tiba-tiba ia menangis. Kami
bertanya-tanya kenapa ia tiba-tiba menangis kami langsung bertanya kepadanya
dan yang kami dapat adalah gelengan kepala dan hanya kata “enggak ada” Cuma itu
aja yang ia ucapkan. Tak beberapa guru pun datang, dan ia pun melihat Cerly
menangis juga bertanya-tanya kenapa Cerly menangis. Apa yang membuat ia
menangis? guru pun bertanya kepad Cerly, dan sudah aku tebak kalau jawabannya
hampir sama denganku tadi, ia hanya menggelangkan kepalanya dan mengucapkan
“enggak ada”. Tak berapa lama Cerly di minta oleh guru untuk pergi mencuci
mukanya. Setelah itu pelajaran akhirnya di mulai. Saat pelajaran berlangsung
Cerly terlihhat sering melamun-melamun saja, aku yang dari tadi
memperhatikannya sampai-sampai tak konsentrasi untuk belajar.
Bel
berbunyi tanda pelajaran telah usai, aku dan teman-teman ku langsung dengan ria
membereskan buku-buku kami. Tapi sebaliknya dengan Cerly ia tidak ceria sama
sekali. Biasanya ia paling ceria kalau sudah namanya pulang. Tapi tidak untuk
hari ini.
Waktu
suadah mulai siang sudah waktunya kami pulang kerumah masing-masing, tiba-tiba
Rika datang kepada ku dan ia langsung bertanya kepada ku “Cerly kenapa kok dia
nangis , tumbenloh dia nangis kayak gitu?” tanyanya kepadaku. “aku aja enggak
ngerti dia kenapa aku dan Lissa aja bertanya –tanya kenapa dengan Cerly.”
Jawabku “apa jangan-jangan dia ada masalah sama keluarganya ya?” Rika dengan
tiba-tiba berbicara seperti itu. “dari segi mananya kamu bisa ambil kesimpulan
kayak gitu?” Tanya Rika “coba deh kalian perhatiin, dia pas kemaren biasa aja
kan. Terus dia kayak gini pas hari ini kan. Terus dia tu udah dari pagi loh
kayak gini. Kalau pun bukan karena masalah keluarga enggak akan kan sampai
kayak gini.”ucap Lissa “bener juga sih, eh ngapain kita mikirin kayak gitu
lebih baik kita pikirin kapan kita mau latihan dramanya.” Ucap ku terhadap
mereka. “o iya sampai lupa aku, tadi tuh aku samperin kamu tu untuk Tanya soal
kapan kita mau latihan drama itu.” Sambil Rika menepuk pundak ku. “ ya udah
besok kan hari minggu kita mulai latihannya besok aja ya.entar latihannya di
rumah Lissa aja ya. Yah kira- kira jam 10an lah kita latihan.” Ujar ku. “oke
deh kalau gitu , entar aku kasih tau yang temen-temen yang lain.Cuma itu aja
kok yang aku mau tanyain. Berarti besok jam 10 di rumah Lissa, ya udah kalo
gitu aku mau pulang udah capek banget nih.” Ujar Rika kepad ku dan Lissa “iya,
tolong dah kasih tau yang lain. oke deh kalau gitu aku sam Lissa juga mau
pulang, kalau gitu kamu hati-hati ya.” Ucapku.
Keesokan
harinya aku lansung siap-siap untuk pergi ke rumah Lissa, sesampainya aku di
sana aku tidak melihat siapa pun. Aku langsung bertanya kepada Lissa “Kemana
yang lain ? kok belum dating ini kan udah jam 10 lebih?” Tanya ku kepada Lissa
“Aku pun tak tau kok seginian mereka belum juga datang. Seharunya mereka jam
segini udah ada di rumah ku.” Jawab Lissa “ya udah deh kalau mereka belum
dating. Gimana kalua kita ngedit-ngedit naskahnya aja dulu ketimbang kita
diem-diem aja kan.” Ucapku kepada Lissa. “ya udah deh kalu gitu kita langsung
aja deh.” Ujar Lissa sambil membuka
laptopnya.
Beberapa
lama kemudian datang lah teman-temanku satu persatu. Aku tak bertanya kepad
mereka, karena aku sudah kesal kepada mereka. karena hari sudah mulaai siang
kami langsung memulai latihan ini. Saat latihan berlangsung tiba-tiba Cerly
datang. Lagi-lagi dengan muka sedih. Sebenarnya apa yang terjadi sama Cerly
kenapa ia selalu datang dengan muka yang sedih? Aku selalu bertanya-tanya
kepada diriku. Lissa langsung mendekati Cerly dan bertanya kepadanya. “kamu
kenapa lagi? Kok kamu nangsi-nangis aja? Apa kamu ada masalah di kelurga mu?”
Tanya Lissa dengan nada yang lembut. “Maaf sebelumnya teman-teman aku sudah
membuat kalian kesal dan bingung karena aku. Sebenarnya aku….” Jawab Cerly
dengan nada yang tersendat-sendat karena menangis. “kamu sebenarnya kenapa sih
Cer, kamu dari kemaren kerjaan mu nangis aja.?” Tiba-tiba Rika berbicara dengan
nada yang sedikit cuek karena ia masih kesal karena Cerly datang terlambat yang
menurutnya ia sudah merusak latihan mereka. “Shhh.. jangan marah-marah dong ka,
kasihan Cerly tu” ujar Risa. Risa adalah teman sebangku Cerly yang dimana ia
sudah berteman lama dengan Cerly. “Din latihannya udahan aja ya, aku capek aku
mau pulang” ujar Firman teman laki-lakiku. “iya udah kalau gitu latihannya kita
cukupin aja sampai sini, kitalanjutin latihannya hari rabu pulang sekolah aja.”
Jawab ku. “ia deh aku juga udah capek, kalua gitu aku juga pulang” ucap Rika.
“ya udah deh, kalau teman-teman yang lain mau pulang silahkan aja. Tapi inget
kita latihan lagi hari rabu ya.” Ujarku kepada teman-temanku.
Tak
lama kemudian teman-temanku semuanya pulang tinggallah aku, Lissa, Cerly dan
Risa. Akhirnya tak lama Cerly mau cerita apa yang menimpa dia. Ternyata
masalahnya adalah masalah keluarga. “Benerkan tebakan ku kemaren kalau Cerly
ada masalah sama keluarganya” ujar Lissa. Tebakan Lissa memang benar. Cerly
memiliki masalah yang rumit orang tuanya mau berpisah dan ia diminta oleh ayahnya
untuk ikut bersamanya untuk pindah ke kota lain. tapi sudah di tebak Cerly
tidak mau untuk pisah dikarenakan ia tidak mau berpisah dengan ibu,
saudara-saudaranya dan teman-temannya. Kenapa hanya Cerly saja yang dipindahkan
kenapa saudara-saudarnya yang lain tidak? Itu yang membuat Cerly tidak mau
pindah. Kami sebagai teman-temannya bingung mau berkata apa karena tidak
sepantasnya kami orang luar ikut campur dalam urusan ini. Kami hanya bisa
memberi semangat kepada Cerly karena hanya itu aja yang bisa kami lakukan.
3
minggu sudah berlalu, sebentar lagi kami akan pentas drama tinggal menghitung
hari lagi. Eh enggak deh bukan hari lagi tinggal menghitung jam Karena besok
kami sudah mulai pentas. Kami sudah merencanakan kalau nanti siang kami akan gladi
resik. Sepulang sekoalh kami semua langsung pergi menuju ke rumah Lissa disana
sudah ad Cerly dan Lissa menunggu kami. Kami langsung menjalankan rencana yang
sudah kami buat tadi di sekolah. Waktu menunjukan hari semakin sore, akhirnya
kami mengakhiri latihan kami dan kami sebelum pentas esok hari kami berdoa
semoga penentasan esok berjalan dengan lancar.
Keesokan
harinya kami bersiap-siap untuk pentas, kami heboh mempersiapkan make up lah,
property lah, busana lah, ini lah itu lah. Dan lain-lain. Saat kami sedang
sibuk mempersiapkan untuk pentas nanti. Di sudut pintu aku melihat Cerly sedang
termenung. Aku tidak langsung memhampirinya karena aku masih sibuk membereskan
properti.
Setelah
semua siap pententasan dimulai kami sangat gugup sekali tapi kegugupan waktu
itu tapi tak lama saat kami sudah mulai berakting semua rasa gugup itu hilang.
Dengan nyamannya kami berakting seperti aktor dan aktris yang sudah propesional
dalam berakting.
Penentasan
drama kami akhirnya usai dengan decakan kagum dari guru dan teman-teman. Kami
bangga dengan hal itu. Akhrinya pementasn pertama kami berhasil dengan nilai
yang memuaskan. Sebelum kami berganti kostum kami melakukuan sesi berfotoan,
kami fot bersama-sama. Setelah kami berfoto-foto. Cerly memisahkan dirinya dari
kerumunan. Aku langsung mendekatinya dan bertanya “kamu kenpa dari tadi aku
perhatiin kamu ngelamun aja. Apa yang lagi kamu pikirkan? Apa orang tua mu
lagi?” Tanyaku kepad Cerly. “iya din kayaknya ini adalah pementasan terakhir
aku deh bareng-bareng sama kalian” ujar Cerly kepadaku. “kok kamu ngomong kayak
gitu emangnya kamu mau pergi kemana sih?” Tanyaku lagi kepadanya “kamu masih
inget sama ceritaku kalau aku mau di ajak pindah sama ayahku keluar kota?”
ujarnya “iya aku masih inget, emangnya jadi kamu mau pindah?” Tanyaku lagi.
Tiba-tiba Risa dan Lissa datang menghampirin kami “Eh kalian ngapain di sini?
Ketimbang kalian bengong-bengong gimana kalau kita berempat fotoan?” ujar Risa
kepada kami. “ya udah deh kalau gitu, kita fotoan aja deh.” Ucap ku. Kami akhirnya
fotoan bersama, setelah berfotoan aku langsung melanjutkan pertanyaan ku tadi.
“Cer, emangnya kamu mau pindah kemana?” tanyaku kepada Cerly. “Hah. Cerly mau
pindah emangnya Cerly mau pindah kemana. Kenapa dia enggak cerita-cerita” ujar
Risa kecewa. “ini kan dia mau cerita Risa. Tadi waktu dia mau cerita kamu dan
Lissa datang dan kalian mengajak kami berfotoan, yah kepotong deh akhirnya
ceritanya.” Ujarku agak sedikit kesal kepada Risa. “eh ngapain kalian rebut
kita dengerin aja Cerly cerita.” Uajr Lissa memisahkan kami. ‘Giman cer?” Tanya
Lissa kepad Cerly “aku jadi mau di pindah kan sama ayahku keluar kota. Ternyata
ayahku sudah mempersiapkan surat pindah ku dan dia sudah mendaftarkan aku ke
sekolah yang baru, makanya aku bilang ini adalah pementasan terakhir aku
bareng-bareng sama kami. Dan mungkin besok aku udah enggak sekolah lagi
disini.” Ujarnya dengan rasa sedih “hah.. kok cepet sekali kamu pindah?” Tanya
Risa terkejut. “aku juga bingung, aku udah mohon-mohon sama ayah ku tapi ayah
ku tetep pada pendiriannya kalau aku dan dia kan pindah keluar kota.” Ucapnya.
“terus gimana dengan ibu dan saudara-saudaramu yang lain apakah mereka udah
tau?” Tanya ku kepad Cerly “sepertinya mereka sudah tau sampai-sampai tadi
malam ayah dan ibuku bertengkar lagi.” Ujarnya kepada kami. Kami benar-benar
merasa terkejut sekali dengan apa yang di ucapkan oleh Cerly , kami tidak ingin
jika Cerly pindah sekolah kami sudah lama berteman dengannya. Tapi kami tak tau
mau berbuat apa ini sudah menjadi keputusan ayahnya. Kami hanya bisa terdiam
dan sedih mendengar ceritanya. “ Jadi besok kita udah endak bisa liat kamu
sekolah lagi disini?” Tanya Risa sambil menahan tangisnya. “sepertinya kayak
gitu. Aku harap persahabantan kita ini terusnya biarpun kita endak satu sekolah
lagi kita harus sahabatan ya.” Ucap Cerly menangis. akhirnya kami keempat
berpelukan layaknya telebubis. Teman-teman yang lain melihat kami berpelukan
seperti itu bertanya-tanya apa yang terjadi, tapi kami tidak ingin member tau
mereka sekarang biarkan mereka mengetahuinya sendiri.
Keesokan
harinya setelah sepulang sekolah aku, Lissa dan Risa langsung mendatang rumah
Cerly, saat kami datang ia dan ayahnya sedang berkemas-kemas untuk pergi dan
kami pun membantunya berkemas dan disana kami memberikan sebuah kado yang
mungkin akan mengingatkan Cerly dengan kita semua. Disana lagi-lagi kami
menangis karena kami akan berpisah dan tidak satu sekolah lagi. Tapi mau di
kata apa lagi kalau sudah keputusannya seperti ini. Kami akan merasa sangat
kangen dengan keceriaan Cerly di sekolah dan pasti teman-teman dan guru ku akan
meras kangen dengan keceriaannya.
Setelah
selesai berkemas kami menghantarkan Cerly ke bandara dan disitu lah kami
terakhir kalinya kami bertemu dengannya.
“TAMAT”
Karya : Afida Dwi Nurjannah