Monday, 1 December 2014

" PEMENTASAN TERAKHIR "

Bel berbunyi waktu pelajaran dimulai. Jam pertama dimulai dan pelajaran pertama .tak berapa lama guruku datang dia menghampiri kelas kami. “Sekarang  bapak mengajar disini kan?” tanyanya kepada kami. Dan temanku yang bernama Cerly menjawab.”Bukan deh pak. Sengingat saya kelas kita tu pelajaran pertamanya adalah biologi terus pelajaran keduanya baru pelajarannya bapak. ” jawab Iman kepada guruku.. setelah Cerly berbicara seperti itu aku dan Lissa teman sebangku ku bertanya-tanya. “Yoh din, bukannya kebalik ya? Perasaan tadi malam aku lihat di jadwal pelajaran ku, jam pertama pelajaran kita kan seni budaya, baru abis itu kita biologi. ” Lissa teman sebangku  pun terheran-heran,dengan perkataa Cerly,  apalagi aku. Secara tiba-tiba langsug berteriak”Bohong pak sekarang pelajaran pak guru. Tadi yang dikatakan Cerly itu bohong pak kalua tidak percaya coba bapak liat sendiri jadwal pelajaran ini.” Setelah pak guru melihat jadwal iya langsung memarahi Cerly. “Kenapa kamu bohong sama bapak? Kalau memang kamu sengaja berbohonh sama bapak karena kamu malas untuk mengikuti pelajaran bapak, silahkan kamu sekarang keluar dari kelas ini.!” Akhirnya tanpa berpikir panjang lagi Cerly langsung keluar dari kelas. Aku bingung terhapadnya. Ia  tanpa ada pembelaan dari dirinya, ia langsung saja meninggalkan pak guru. Lalu aku dan Lissa bingung kenapa Cerly seperti itu tidak biasanya Cerly  seperti itu. Cerly  adalah anak yang baik dan aktif dalam segala pelajaran dan ia sopan terhadap semua guru., tapi mengapa sekarang ia menjadi seperti bukan Cerly . ia sekarang labih banyak diam dan sekarang lebih suka membantah omongan guru.
Dengan muka yang masih terlihat marah dengan kejadiaan tadi, pak guru tetap melanjutkan mengajar. Berbunyi menandakan bahwa jam pertama telah usai. Teman-teman ku dan aku langsung senang karena pelajarannya telah usai. tapi kesenangan kami tidak terbayar lama, yah seperti biasa kami di beri tugas rumah. “Bapak akan member kalian tugas, tolong kalian membuat kelompok yang isi kelompoknya ada 16 orang. Bapak minta untuk kalian semua membuat sebuah drama yang dimana kalian akan mendapatkan nilai keterampilan saat melakukan drama ini.” Ujar pak guru terhadap kami. Teman ku yang bernama Rika yang memiliki rambut yang panjang tapi hidungnya enggak panjang. mengacungkan tangannya ke atas, ia  ingin bertanya kepad apak guru “Pak kalau untuk temanya kita tentuin sendiri? Terus kalau misalnya kita kekurangan pemain, terus pemainnya punya dua peran endak apa-apa pak?” Tanya Rika ke pak guru. Pak guru langsung menjawab pertanyaan dari Rika tadi “Gini ya anak-anak, kalau untuk temanya kita serempakan saja dengan kelas-kelas yang lain, kalau temanya itu adalah legenda. Dan untuk pertanyaannya yang kedua tadi, kalua misalnya kejadiannya tadi, bisa saja asal jangan menganggu dialognya saja. Bagaimana apa bisa di mengerti?”. Teman –teman ku serempak menjawab “mengerti pak.” Dan lagi-lagi Rika mengacungkan tangannya lagi “terus kapan kita di beri waktu untuk latihannya pak?” dengan menghelaikan napasnya pak guru langsung menjawab “kalian bapak berikan waktu untuk latihan mulai dari hari ini sampai dengan akhir bulan Oktober ini.”  Kat pak guru terhadap kami. Lalu kami dengan seremoak menjawabnya “iya pak.” Dengan akhir dari jawaban kami tadi pak guru langsung berpamitan dan pergi meninggalkan kelas. Dan imam saat pak guru keluar dari kelas ia langsung masuk ke kelas.
Setelah pak guru seni budaya itu keluar kami langsung heboh untuk mencari kelompok kami. 1 kelas itu diminta untuk menjadi 2 kelompok. Setelah kami menentukan kelompok kami langsung mementukan judul drma apa yang kami ingin mainkan. Kami sudah lama berfikir sampai bel keluar main pun kami belom mendapatkan judul drama apa yang ingin kami main kan.
Aku, Lissa dan teman-teman ku yang lain mendengar bel keluar main berbunyi kami langsung memasukan buku kami dan langsung mejugu kantin. “din, kantin yuk, aku dah laper banget nih.” Ujar Lissa terhadap ku. “oke, aku udah laper juga nih.” Jawabku ke Lissa. Di perjalanan ke kantin kami bertemu Cerly. Kami melihatnya dengan raut muka yang sedih. Tidak seperti biasanya ia seperti itu. “Cer ,kamu kenapa? Kamu masih kesel sama pak guru? ” Tanya ku terhadap Cerly. “udah lah ngapain kalian mikirin aku, lebih baik kalian pergi aja!” dengan nada yang agak keras Cerly mengusir kami, dan ia langsung berlari meninggalkan kami. Kami semakin bertanya-tanya ada apa dengan Cerly benar-benar tidak biasanya ia seperti itu. “udahlah din, ngapain kamu pikirin dia lebih baik kita ke kantin aja keburu bel.” Ucap Lissa kepada ku. Aku langsung mengangguk tanpa berbicara apa pun. Setelah kami membeli makanan di kantin kami langsung pergi ke kelas.
Diperjalan ke kelas kami bertemu oleh guru seni budaya “kalian kelas 11 C kan?” Tanya guru itu terhadap kami. “iya, kami kelas 11 C, ada apa ya pak guru memanggil?” Tanya kami kepada guru seni budaya itu. “gini tadi pas saya dikelas saya belum kasih tau ya kalau saya minta nama- nama anggota kelompok dan ia berperan sebagai apa?” Tanya guru itu terhadap kami. “belum denh pak, tadi bapak tidak ada berbicara seperti itu.” Jawab kami. “o tidak ada ya, kalau gitu saya minta tolong sama kalian untuk samapai kan pesan bapak tadi ke teman-teman kami, entar kalau udah jadi kalian taruh aja kertas lembarannya di meja bapak.” “baik pak, sekarang kami permisi ke kelas dulu ya pak.” Kami langsung pergi menuju kelas.
Sesampainya di kelas aku langsung memberi tau pesan yang pak guru sampaikan terhadap kami. Setelah itu aku dan Lissa langsung kembali ke bangku kami untuk makan makanan yang kami beli tadi di kantin. Tak beberapa lama teman-temanku langsung mengumpulkan nama-nama tersebut, tapi kelompokku masih bingung dengan apa yang kami mau tampilkan. Aku juga bingung, aku kirain teman-teman kelompok ku udah pada cari, eh ternyata mereka juga masih bingung. Tanpa berpikir panjang lagi, aku tinggalkan makanan ku dan lansung membuka hp untuk mencari legenda-legenda tersebut di internet. Tak sampai lama aku langsung memutuskan untuk membawa kami drama yang judulnya “Tangkuban Perahu”. Setelah aku mencarinya aku langsung meminta tolong ke pada Rika untuk mementukan siapa saja yang berperan sebagai siapa. Dan aku langsung melanjutkan makanan ku yang sempat tertunda tadi. “Din, Cerly tu jadi masuk ke kelompok kita?” Tanya Rika kepada ku. “yah jadi lah, dia kan memang kelompok kita dari dulu.” Jawab ku. “o yaudah deh kalau gitu aku Cuma mau Tanya aja kok.” Ucap Rika. “Nih din udah jadi nama-namanya. Dimana aku mau kumpulin?” Tanyanya kepada. “langsung aja deh kamu taruh di mejanya pak guru. Sekalian sama yang ini yah.” Aku langsung menyodorkan kertas lembaran yang punya kelompok yang lain. “oke deh kalau gitu, aku langsung ke mejanya pak guru ya.” Ucap Rika.
Bel berbunyi tanda waktu keluar main abis. Kami langsung membereskan sisa makan tadi. Saat membereskan makanan tiba-tiba Cerly dating dan duduk di bangkunya dengan berlinang air mata. Kami tak mengerti kenapa tiba-tiba ia menangis. Kami bertanya-tanya kenapa ia tiba-tiba menangis kami langsung bertanya kepadanya dan yang kami dapat adalah gelengan kepala dan hanya kata “enggak ada” Cuma itu aja yang ia ucapkan. Tak beberapa guru pun datang, dan ia pun melihat Cerly menangis juga bertanya-tanya kenapa Cerly menangis. Apa yang membuat ia menangis? guru pun bertanya kepad Cerly, dan sudah aku tebak kalau jawabannya hampir sama denganku tadi, ia hanya menggelangkan kepalanya dan mengucapkan “enggak ada”. Tak berapa lama Cerly di minta oleh guru untuk pergi mencuci mukanya. Setelah itu pelajaran akhirnya di mulai. Saat pelajaran berlangsung Cerly terlihhat sering melamun-melamun saja, aku yang dari tadi memperhatikannya sampai-sampai tak konsentrasi untuk belajar.
Bel berbunyi tanda pelajaran telah usai, aku dan teman-teman ku langsung dengan ria membereskan buku-buku kami. Tapi sebaliknya dengan Cerly ia tidak ceria sama sekali. Biasanya ia paling ceria kalau sudah namanya pulang. Tapi tidak untuk hari ini.
Waktu suadah mulai siang sudah waktunya kami pulang kerumah masing-masing, tiba-tiba Rika datang kepada ku dan ia langsung bertanya kepada ku “Cerly kenapa kok dia nangis , tumbenloh dia nangis kayak gitu?” tanyanya kepadaku. “aku aja enggak ngerti dia kenapa aku dan Lissa aja bertanya –tanya kenapa dengan Cerly.” Jawabku “apa jangan-jangan dia ada masalah sama keluarganya ya?” Rika dengan tiba-tiba berbicara seperti itu. “dari segi mananya kamu bisa ambil kesimpulan kayak gitu?” Tanya Rika “coba deh kalian perhatiin, dia pas kemaren biasa aja kan. Terus dia kayak gini pas hari ini kan. Terus dia tu udah dari pagi loh kayak gini. Kalau pun bukan karena masalah keluarga enggak akan kan sampai kayak gini.”ucap Lissa “bener juga sih, eh ngapain kita mikirin kayak gitu lebih baik kita pikirin kapan kita mau latihan dramanya.” Ucap ku terhadap mereka. “o iya sampai lupa aku, tadi tuh aku samperin kamu tu untuk Tanya soal kapan kita mau latihan drama itu.” Sambil Rika menepuk pundak ku. “ ya udah besok kan hari minggu kita mulai latihannya besok aja ya.entar latihannya di rumah Lissa aja ya. Yah kira- kira jam 10an lah kita latihan.” Ujar ku. “oke deh kalau gitu , entar aku kasih tau yang temen-temen yang lain.Cuma itu aja kok yang aku mau tanyain. Berarti besok jam 10 di rumah Lissa, ya udah kalo gitu aku mau pulang udah capek banget nih.” Ujar Rika kepad ku dan Lissa “iya, tolong dah kasih tau yang lain. oke deh kalau gitu aku sam Lissa juga mau pulang, kalau gitu kamu hati-hati ya.” Ucapku.

Keesokan harinya aku lansung siap-siap untuk pergi ke rumah Lissa, sesampainya aku di sana aku tidak melihat siapa pun. Aku langsung bertanya kepada Lissa “Kemana yang lain ? kok belum dating ini kan udah jam 10 lebih?” Tanya ku kepada Lissa “Aku pun tak tau kok seginian mereka belum juga datang. Seharunya mereka jam segini udah ada di rumah ku.” Jawab Lissa “ya udah deh kalau mereka belum dating. Gimana kalua kita ngedit-ngedit naskahnya aja dulu ketimbang kita diem-diem aja kan.” Ucapku kepada Lissa. “ya udah deh kalu gitu kita langsung aja deh.”  Ujar Lissa sambil membuka laptopnya.
Beberapa lama kemudian datang lah teman-temanku satu persatu. Aku tak bertanya kepad mereka, karena aku sudah kesal kepada mereka. karena hari sudah mulaai siang kami langsung memulai latihan ini. Saat latihan berlangsung tiba-tiba Cerly datang. Lagi-lagi dengan muka sedih. Sebenarnya apa yang terjadi sama Cerly kenapa ia selalu datang dengan muka yang sedih? Aku selalu bertanya-tanya kepada diriku. Lissa langsung mendekati Cerly dan bertanya kepadanya. “kamu kenapa lagi? Kok kamu nangsi-nangis aja? Apa kamu ada masalah di kelurga mu?” Tanya Lissa dengan nada yang lembut. “Maaf sebelumnya teman-teman aku sudah membuat kalian kesal dan bingung karena aku. Sebenarnya aku….” Jawab Cerly dengan nada yang tersendat-sendat karena menangis. “kamu sebenarnya kenapa sih Cer, kamu dari kemaren kerjaan mu nangis aja.?” Tiba-tiba Rika berbicara dengan nada yang sedikit cuek karena ia masih kesal karena Cerly datang terlambat yang menurutnya ia sudah merusak latihan mereka. “Shhh.. jangan marah-marah dong ka, kasihan Cerly tu” ujar Risa. Risa adalah teman sebangku Cerly yang dimana ia sudah berteman lama dengan Cerly. “Din latihannya udahan aja ya, aku capek aku mau pulang” ujar Firman teman laki-lakiku. “iya udah kalau gitu latihannya kita cukupin aja sampai sini, kitalanjutin latihannya hari rabu pulang sekolah aja.” Jawab ku. “ia deh aku juga udah capek, kalua gitu aku juga pulang” ucap Rika. “ya udah deh, kalau teman-teman yang lain mau pulang silahkan aja. Tapi inget kita latihan lagi hari rabu ya.” Ujarku kepada teman-temanku.
Tak lama kemudian teman-temanku semuanya pulang tinggallah aku, Lissa, Cerly dan Risa. Akhirnya tak lama Cerly mau cerita apa yang menimpa dia. Ternyata masalahnya adalah masalah keluarga. “Benerkan tebakan ku kemaren kalau Cerly ada masalah sama keluarganya” ujar Lissa. Tebakan Lissa memang benar. Cerly memiliki masalah yang rumit orang tuanya mau berpisah dan ia diminta oleh ayahnya untuk ikut bersamanya untuk pindah ke kota lain. tapi sudah di tebak Cerly tidak mau untuk pisah dikarenakan ia tidak mau berpisah dengan ibu, saudara-saudaranya dan teman-temannya. Kenapa hanya Cerly saja yang dipindahkan kenapa saudara-saudarnya yang lain tidak? Itu yang membuat Cerly tidak mau pindah. Kami sebagai teman-temannya bingung mau berkata apa karena tidak sepantasnya kami orang luar ikut campur dalam urusan ini. Kami hanya bisa memberi semangat kepada Cerly karena hanya itu aja yang bisa kami lakukan.

3 minggu sudah berlalu, sebentar lagi kami akan pentas drama tinggal menghitung hari lagi. Eh enggak deh bukan hari lagi tinggal menghitung jam Karena besok kami sudah mulai pentas. Kami sudah merencanakan kalau nanti siang kami akan gladi resik. Sepulang sekoalh kami semua langsung pergi menuju ke rumah Lissa disana sudah ad Cerly dan Lissa menunggu kami. Kami langsung menjalankan rencana yang sudah kami buat tadi di sekolah. Waktu menunjukan hari semakin sore, akhirnya kami mengakhiri latihan kami dan kami sebelum pentas esok hari kami berdoa semoga penentasan esok berjalan dengan lancar.
Keesokan harinya kami bersiap-siap untuk pentas, kami heboh mempersiapkan make up lah, property lah, busana lah, ini lah itu lah. Dan lain-lain. Saat kami sedang sibuk mempersiapkan untuk pentas nanti. Di sudut pintu aku melihat Cerly sedang termenung. Aku tidak langsung memhampirinya karena aku masih sibuk membereskan properti.
Setelah semua siap pententasan dimulai kami sangat gugup sekali tapi kegugupan waktu itu tapi tak lama saat kami sudah mulai berakting semua rasa gugup itu hilang. Dengan nyamannya kami berakting seperti aktor dan aktris yang sudah propesional dalam berakting.
Penentasan drama kami akhirnya usai dengan decakan kagum dari guru dan teman-teman. Kami bangga dengan hal itu. Akhrinya pementasn pertama kami berhasil dengan nilai yang memuaskan. Sebelum kami berganti kostum kami melakukuan sesi berfotoan, kami fot bersama-sama. Setelah kami berfoto-foto. Cerly memisahkan dirinya dari kerumunan. Aku langsung mendekatinya dan bertanya “kamu kenpa dari tadi aku perhatiin kamu ngelamun aja. Apa yang lagi kamu pikirkan? Apa orang tua mu lagi?” Tanyaku kepad Cerly. “iya din kayaknya ini adalah pementasan terakhir aku deh bareng-bareng sama kalian” ujar Cerly kepadaku. “kok kamu ngomong kayak gitu emangnya kamu mau pergi kemana sih?” Tanyaku lagi kepadanya “kamu masih inget sama ceritaku kalau aku mau di ajak pindah sama ayahku keluar kota?” ujarnya “iya aku masih inget, emangnya jadi kamu mau pindah?” Tanyaku lagi. Tiba-tiba Risa dan Lissa datang menghampirin kami “Eh kalian ngapain di sini? Ketimbang kalian bengong-bengong gimana kalau kita berempat fotoan?” ujar Risa kepada kami. “ya udah deh kalau gitu, kita fotoan aja deh.” Ucap ku. Kami akhirnya fotoan bersama, setelah berfotoan aku langsung melanjutkan pertanyaan ku tadi. “Cer, emangnya kamu mau pindah kemana?” tanyaku kepada Cerly. “Hah. Cerly mau pindah emangnya Cerly mau pindah kemana. Kenapa dia enggak cerita-cerita” ujar Risa kecewa. “ini kan dia mau cerita Risa. Tadi waktu dia mau cerita kamu dan Lissa datang dan kalian mengajak kami berfotoan, yah kepotong deh akhirnya ceritanya.” Ujarku agak sedikit kesal kepada Risa. “eh ngapain kalian rebut kita dengerin aja Cerly cerita.” Uajr Lissa memisahkan kami. ‘Giman cer?” Tanya Lissa kepad Cerly “aku jadi mau di pindah kan sama ayahku keluar kota. Ternyata ayahku sudah mempersiapkan surat pindah ku dan dia sudah mendaftarkan aku ke sekolah yang baru, makanya aku bilang ini adalah pementasan terakhir aku bareng-bareng sama kami. Dan mungkin besok aku udah enggak sekolah lagi disini.” Ujarnya dengan rasa sedih “hah.. kok cepet sekali kamu pindah?” Tanya Risa terkejut. “aku juga bingung, aku udah mohon-mohon sama ayah ku tapi ayah ku tetep pada pendiriannya kalau aku dan dia kan pindah keluar kota.” Ucapnya. “terus gimana dengan ibu dan saudara-saudaramu yang lain apakah mereka udah tau?” Tanya ku kepad Cerly “sepertinya mereka sudah tau sampai-sampai tadi malam ayah dan ibuku bertengkar lagi.” Ujarnya kepada kami. Kami benar-benar merasa terkejut sekali dengan apa yang di ucapkan oleh Cerly , kami tidak ingin jika Cerly pindah sekolah kami sudah lama berteman dengannya. Tapi kami tak tau mau berbuat apa ini sudah menjadi keputusan ayahnya. Kami hanya bisa terdiam dan sedih mendengar ceritanya. “ Jadi besok kita udah endak bisa liat kamu sekolah lagi disini?” Tanya Risa sambil menahan tangisnya. “sepertinya kayak gitu. Aku harap persahabantan kita ini terusnya biarpun kita endak satu sekolah lagi kita harus sahabatan ya.” Ucap Cerly menangis. akhirnya kami keempat berpelukan layaknya telebubis. Teman-teman yang lain melihat kami berpelukan seperti itu bertanya-tanya apa yang terjadi, tapi kami tidak ingin member tau mereka sekarang biarkan mereka mengetahuinya sendiri.
Keesokan harinya setelah sepulang sekolah aku, Lissa dan Risa langsung mendatang rumah Cerly, saat kami datang ia dan ayahnya sedang berkemas-kemas untuk pergi dan kami pun membantunya berkemas dan disana kami memberikan sebuah kado yang mungkin akan mengingatkan Cerly dengan kita semua. Disana lagi-lagi kami menangis karena kami akan berpisah dan tidak satu sekolah lagi. Tapi mau di kata apa lagi kalau sudah keputusannya seperti ini. Kami akan merasa sangat kangen dengan keceriaan Cerly di sekolah dan pasti teman-teman dan guru ku akan meras kangen dengan keceriaannya.
Setelah selesai berkemas kami menghantarkan Cerly ke bandara dan disitu lah kami terakhir kalinya kami bertemu dengannya.







“TAMAT”

Karya : Afida Dwi Nurjannah

Cerita Pendek (Cerpen) " KERASNYA KEHIDUPAN "

Rara, seorang gadis yang cantik, sopan, pandai, suka beribadah, baik hati dan mudah putus asa. Dia hidup di lingkungan keluarga yang kekurangan, Rara hidup di lingkungan rumah yang semua penduduknya pemulung. Rara seorang siswi yang mendududki bangku smp Harapan Kita kelas ix.
Di sekolah, Rara terkenal dengan kepandaiannya dan disebut sebagai kutu buku oleh temen temannya. Tetapi tidak sedikit yang begitu salut dan mengaguminya. Karena dia tidak penah menyianyiakan waktu luangnya. Kerap kali dia mendapat ocehan dari temannya, tetapi dia tidak pernah marah bahkan dia selalu tersenyum saat diejek oleh temannya, jika Rara merasa sakit hati pun dia hanya terdiam.
Setelah pulang sekolah, Rara tidak hanya berdiam diri, dia membantu orangtuanya walaupun harus menjadi pemulung sekalipun. Dan setiap kali ia mendapatkan uang hasil kerja kerasnya dia selalu menyisihkan uangnya untuk ditabung tanpa sepengetahuan kedua orangtuanya. Dia pun tidak pernah mengeluh dengan kehidupan yang dia jalani. Dia selalu bersyukur atas nikmat dan karunia Allah SWT. Dia bekerja keras untuk mencapai cita-cita yang dia inginkan. Dan dia yakin suatu saat nanti dia akan merajut asa walau harus berjalan di atas duri.
Dalam buku yang sering dia baca ada sekelumit pepatah yang selalu menguatkan Rara untuk terus bersemangat salah satu pepatahnya “Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian” yang artinya bersakit-sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Meski banyak teman-teman Rara yang hidupnya berkecukupan. Dia tidak pernah iri dengan kehidupan teman-temannya. Untuk apa aku aku hidup berkecukupan kalau aku tidak pernah bersyukur atas nikmat nikmat Allah, untuk apa aku hidup berkecukupan kalau tidak ada kasih sayang dari orangtua yang aku rasakan sampai sekarang ini.
Mungkin perasaan itu yang membuat Rara tidak pernah iri dengan kehidupan teman-temannya yang berkecukupan bahkan terkesan mewah. Karena apa yang mereka inginkan serba ada, tidak seperti kehidupan Rara apabila ia menginginkan sesuatu ia harus bekerja keras.
Suatu hari, ibu Rara sakit keras. Dia dan ayahnya kebingungan. Mereka harus berbuat apa dan bagaimana?
“Ayah, kita bawa ibu ke dokter saja yah?”
“Pakai apa kita membiayainya nak? Ayah tidak punya uang untuk membawa ibumu berobat nak?.”

Rara berlari menuju kamarnya, dia segera mengambil uang tabungannya. Sebelum Rara mengambil uang dari tempat di mana dia menyimpannya, dia merasa bimbang, karena uangnya ingin Rara pergunakan untuk masuk ke SMA yang dia impikan, namun di sisi lain Rara harus membawa ibunya untuk ke dokter.
Tanpa berfikir panjang, dia langsung bergegas mengambil uangnya.
“Ayo ayah, sekarang kita bawa ibu ke dokter!!! Rara ada uang yang Rara Tabung.”
“Tapi Ra, itu kan uang tabunganmu nak ayah yakin kamu menginginkan sesuatu dari uang yang kamu tabung itu bukan?”
jawab ayah.
“Tidak ayah!! Kita harus segara membawa ibu ke dokter ayah! Rara tak ingin melihat ibu sakit ayah, Rara pengin ibu sembuh!!!”
Akhirnya mereka membawa Ibu ke dokter untuk mengetahui keadaan ibu yang sebenarnya.
Malam harinya, Rara duduk terdiam dan menangis di teras depan rumahnya.
“Bagaimana Mungkin aku dapat melanjutkan ke jenjang SMA, sedangkan uangku sudah terpakai untuk berobat ibu.” Dalam hatinya dia berkata.
Ayah pun datang menghampiri Rara yang sedang duduk di teras depan rumah. “Ra, maafkan ayah… tak seharusnya kamu gunakan uangmu untuk berobat ibu, harusnya ayah yang membiayai itu…”
“Tidak ayah, ayah tidak perlu meminta maaf sama Rara, Rara anak ayah dan Rara anak ibu. Jadi kalau ada apa-apa dan Rara sanggup itu apapun akan Rara lakukan untuk ayah dan ibu…”
“Kamu memang baik nak, ayah bahagia punya anak sepertimu… terimakasih anakku..”
“Rara pengen Ayah dan Ibu ada di samping Rara kapanpun itu, saat Rara sedih ataupun Bahagia.”
Kini Ujian Nasional sudah di depan mata Rara. Dia mengikuti Ujian itu dengan baik. Empat hari telah berlalu, kini tinggal menunggu hasilnya.
Hari demi hari Rara jalani untuk memulung untuk mengumpulkan uang, untuk berobat ibunya. Dan di setiap hari-harinya dia selalu berdo’a agar dia LULUS dengan nilai yang memuaskan dan dapat melanjutkan ke SMA impiannya. Tidak lupa Rara selalu mendo’akan ibu dan bapaknya agar mereka senantiasa dalam keadaan sehat.
Tiba saatnya hari pengumuman kelulusan.
Dag… dig… dug jantung Rara berdebar debar. Air matanya mulai menghiasi wajahnya yang cantik jelita itu.
“Rara Eka Putri Cahyani”
Di panggillah namanya, saat dia membuka sebuah kertas yang tertera namannya dia dinyatakan Lulus dan nilainya pun sangat memuaskan.
Di samping itu Rara dinobatkan sebagai siswa terbaik di SMPnya.
Kini Rara tinggal melangkah ke SMA dengan mudah.
Tetapi apa yang terjadi? Rara menangis karena dia tidak punya biaya untuk masuk ke SMA yang impikan.
Rara memutuskan untuk pulang ke rumah, di sepanjang jalan dari sekolah sampai rumah Rara masih terus menangis. Dia melihat ibunya yang sedang duduk di teras rumah, Rara berlari memeluk ibunya.
“Rara, apa yang terjadi pada dirimu nak? Mengapa kau menangis seperti ini? Apa yang membuatmu menangis nak? Bagaimana dengan hasil Ujian yang kamu hadapi kemarin?”
“Bu.. ibu.. Rara mendapatkan nilai yang sangat bagus dan memuaskan ibu, Rara pun dinobatkan sebagai siswa terbaik di sekolah bu.”
“Ibu bahagia mendengarnya nak, kamu memang anak ibu yang baik, pandai dan cantik. Anak ibu yang sangat ibu sayang. Lalu apa yang membuat anak ibu yang cantik ini menangis?”
“Rara menangis, karena Rara ingin melanjutkan sekolah Rara di SMA yang Rara impikan bu, tapi itu tidak terwujud.”
“Bacalah ini anakku, siapa tau ini dapat membuatmu tersenyum kembali.”
Ibu menyerahkan surat kepada Rara. Setelah Rara membacanya raut wajahnya kini berubah menjadi kebahagiaan, membuat wajah cantiknya semakin terlihat.
“Ibu.. ibu.. Rara tidak mimpikan? Ibu apa ini benar?”
Ibu hanya tersentum untuk Rara.
“Ikutlah tes seleksi beasiswa di SMA harapanmu itu nak, ibu yakin kamu pasti bisa. Ibu ingin melihatmu sukses, dan ingin melihatmu meraih cita-cita yang kamu inginkan anakku.”
Dengan penuh yakin dan semangat Rara akan membuktikan bahwa dia bisa, dan dia dapat mengabulkan permohonan ibunya.
Keesokan harinya, Rara bersiap siap untuk bergegas menuju ke SMA, untuk mengikuti tes seleksi.
“Ayah.. Ibu.. Rara berangkat, do’akan Rara supaya Rara lolos seleksi.”
Rara berpamitan dengan Ayah yang sedang makan dan dengan ibunya yang sedang berbaring.
“Iya nak, kami selalu berdoa untukmu. Hati-hati di jalan nak” ujar ibunya.
Rara pun tersenyum “Assalamu’alaikum” sambil berjalan ke depan rumah.
“wa’alaikumussalam.”
Sampai di SMA, ternyata ada teman kecil Rara yang orangtuanya telah sukses, mereka bertemu saat mereka akan memasuki ruangan Tes seleksi itu.
setelah beberapa jam mereka selesai mengerjakan tes itu, mereka keluar dari ruangan dan duduk mengobrol, bercanda. Namun saat mereka bercanda Rara tiba-tiba terdiam dan menghentikan candaannya. Zakia temen Rara heran melihat Rara “Ra, apa yang terjadi? Apa kamu sakit?”
Zakia betanya tanya, karena Zakia bingung mengapa tiba-tiba Rara terdiam seperti ini.
“Ki, perasaanku berubah menjadi tidak enak. Apa yang terjadi? Mungkinkah aku akan menangis setelah ini?”
“iya kamu akan menangis bahagia setelah kita melihat hasil tes itu, yakinlah kita lolos” Zakia menenangkan hati Rara.
“Ah kamu bisa aja Ki, tapi bukan itu yang aku maksud Ki”
“Lalu? Sudah Ra, jangan berfikiran yang gak-gak. Yakilah tidak ada apapun yang terjadi, keep smile Rara Temanku yang cantik jelita. Heheheh”
“Halah kamu Ki, bisa aja, heheheh”
Tak lama mereka bercanda dan mengobrol hasil tes seleksi di tempel di papan pengumuman sekolah.
Mereka segera beranjak menuju ke papan pengumuman itu. Dan ternyata mereka lolos seleksi dan mereka diterima di SMA itu. Mereka merasa sangat bahagia, mereka segera pulang untuk membawa kabar bahagia itu untuk keluarganya.
Mereka pun segera pulang ke rumah, untuk menyampaikan hasil tes seleksi itu.
Rara merasa sangat bahagia, dia telah memenuhi ucapan ibunya.
Ibu.. ibu.. Ayah.. ayah..!!!! Lihat ini.. apa yang aku bawa untuk ibu dan ayah.
Rara berlari menuju rumah, tetapi apalah yang terjadi, sesampainya di depan pintu, kebahagiaan Rara berubah menjadi duka.
Rara menjadi lemah tanpa daya, dia segera memeluk dan menangis di tubuh ibunya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Kini Ibu Rara telah meninggalkan Rara dan Ayahnya.
Rara masih terus mengingat ucapan-ucapan terakhir dari ibunya.
Setelah kepergian ibunya Rara menjadi anak yang sangat pendiam dan jarang tersenyum.
Semangatnya mulai perlahan lahan turun dan patah. Dia selalu menangis saat dia teringat dengan sosok ibunya.
“Anakku yang cantik, apa yang terjadi dengan dirimu nak? Mengapa kini kau menjadi pendiam dan jarang tersenyum? Kemana anak ayah yang dulu selalu tersenyum?”
“Tapi ayah, ibu tak ada di sampingku. Bagaimana aku dapat tersenyum dan bersemangat?”
Rara pun mulai menangis lagi, dia memeluk ayahnya.
“Masih ada ayah di sini nak, yang selalu mendukungmu, yang selalu menyemangatimu. Ibumu ada di sampingmu, dia selalu mendampingimu mengerjar cita cita.”
Setelah mendengar perkataan ayahnya kini semangat Rara kembali lagi, dan Rara kini mulai tersenyum kembali.
Tak terasa sudah 3 tahun Rara SMA. Kini Ujian Nasional akan Rara hadapi.
Rara memang siswa yang sangat pandai. Dia sudah ditawarkan oleh dosen untuk masuk ke Perguruan Tinggi yang banyak diinginkan banyak orang.
Setelah Lulus dari SMA, dia melanjutkan kuliah.
Di samping kuliah dia juga mulai belajar meniti karirnya sebagai pengusaha.
Kini perlahan-lahan dia mulai menjadi pengusaha yang sangat sukses walaupun dia masih kuliah. Dan kini dia mulai merubah kehidupan keluarganya berkat ketekunan, keuletan dan semangat yang dia perjuangkan.

Setelah Selesai kuliah kini dia benar-benar menjadi pengusaha yang sangat sukses.
Apa yang Rara cita-citakan telah terwujud semua.
Rara sangat bahagia karena dia dapat membuktikan dan memenuhi apa yang ibunya inginkan.
Ayah, ibu.. Kini aku menjadi pengusaha yang sangat sukses, dan cita citaku yang aku Impikan sejak aku SMP telah terwujud semua.

Karya : Taufan Dhiya Prasetyo

Cerita Pendek (cerpen) " Mendung Tak Selalu Hujan "

Pada saat jam istirahat Rina dan sahabat-sahabatnya berdiskusi soal tempat yang akan mereka kunjungi mala mini. Ya… wajarlah hari ini hari sabtu, dimana biasanya anak-anak muda pada hang-out bersama teman-temannya di sabtu malam.
“Jadi, kita kemana malam ini?”  Tanya Gita kepada teman-temannya.
“Kemana ya enakya? Hmmm….” Rina menjawab.
“Bagaimana, kalau kita ke restaurant Mayo-Mayi dekat sekolah sini?” Tawar Syita.
“Hmmm… Bisa juga! Jam berapa kita bertemu di sana?” Tanya Gita kembali.
“Jam 7 malam saja, tapi jam 7 itu kita semua sudah berkumpul di sana ya! Itu kan restaurant baru, jadi biasanya ramai” Rina menjawab.
            Kring… Kring… Kring…. Bel masuk kelas pun berbunyi. Rina dan sahabat-sahabatnya pun masuk ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran. Tak terasa jam dinding di kelas sudah menunjukan pukul 2 siang dan tak lama bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siwa segera keluar dari kelas dan bergegas untuk pulang.
“Ingat jam 7 nanti ya !” Sorak Rina kepada sahabat-sahabatnya di parkiran sekolah.
“Oke…!” Jawab mereka.
            Jam menunjukan pukul 6 sore.
“Aduh! Mendung lagi! Jam segini!” Geram Rina marah.
“Duh… Bagaimana ini? Kira-kira hujan nggak ya?” Rina berkata dalam hati sambil mondar-mandir dan melihat jendela kamarnya.
“Lebih baik aku mandi sekarang! Daripada ntar keburu hujan”
            Sesampainya di restaurant yang mereka janjikan, restaurant Mayo-Mayi.
“Hi… Girls! Maaf ya aku agak telat, soalnya tadi aku nunggu papaku dulu. Aku berangkat bareng dia” Sapa Syita kepada kedua orang sahabatnya itu.
“Iya… gak papa kok, santai aja. Yang penting kamu datang” Jawab Rina kepada sahabatnya.
“Oh… ya! Tumben banget nih kita cepat datang. Ada apa?” Ucap Syita.
“Aku takut ntar keburu hujan, tadi di rumahku mendung” Jawab Gita.
“Iya nih! Aku juga, takut ntar nggak jadi pergi” Sambung Rina menjawab Syita.
            Mereka memesan makanan dan minuman. Dan mereka berbincang-bincang mengenai pacar, ekskul, keluarga, kegiatan mereka dan lain-lain. Mereka saling bercerita tentang semuanya satu sama lain. Tak ada yang mereka tutupi, ya… wajarlah mereka memang bersahabat sejak mereka duduk di bangku kelas 5 SD.
            Saat sedang asyik mengobrol dan menikmati makanan dan minuman.
“Eh… nyadar gak sih?” Tanya Gita.
“Apa? Nyadar apa?” Tanya Syita kembali.
“Kalau gak jadi turun hujan” Jawab Gita.
“Iya ya, bener nggak jadi turun hujan” Sahut Rina.
“Biasanya turun hujan kan kalau udah mendung, tapi kali ini tumben banget” Kata Gita.
“Iya bener banget tuh….” Rina membalas.
            Saking asiknya mengobrol mereka smpai tak tahu waktu. Tak terasa sudah 2 jam mereka berada di sana, dan malam mulai gelap dan jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Pulang yuk… sudah malam nih” Ajakan Rina kepada tmen-temannya.
“Iya… Yuk kita pulang” Sahut Syita.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, dan mereka bersistirahat semsampainya di rumah.
            Keesekoannya harinya mereka berkumpul kembali, tetapi tidak resataurant atau mall. Hari itu mereka memutuskan untuk back to nature. Mungkin mereka bosan dengan keaadaan kota yang dikelilingi dengan gedung-gedung perkantoran, mall, jalanan yang macet, polusi, dan udara yang panas. Kali ini mereka pergi ke pantai, mereka pergi ke pantai Ilalang. Pantai tersebut sangat indah dan tak sedikit orang yang ingin pergi ke sana.
“Bagus banget ya pantainya!” Ungkap Gita
“Iya, bener banget” Balas Rina.
“Yuk… foto yuk…!” Ajak Gita.
“Ayo…!” Jawab Syita kepada Gita.
            Mereka asik berfotoan, berenang, snorkeling dan ada juga yang berjemur. Dari mereka bertiga Gita lah yang paling cerewet, ya bias dibilang seperti itu. Ia adalah anak yang periang, suka bercanda, menjahili teman-temannya, bahkan sahabat-sahabatnya pun hampir tidak pernah melihat Gita menangis ataupun sedih.
            Gita memang anak orang kaya, ayahnya adalah seorang penguasaha terkenal dan ia juga cukup pintar. Tapi hal yang disenangi dari sahabat-sahabatnya adalah ia tidak sombong. Ia sangat ramah, baik, dan mau memabantu siapa pun, walaupun orang yang dibantunya tidak sederajat dengan dia.
            Disaat sedang asyik menikmati suasana pantai, Gita bercerita kepada 2 sahabatnya.
“Syita, Rina. Aku mau cerita nih sama kalian” Ucap Gita kepada sahabatnya itu.
“Iya cerita apa Git?” Tanya Syita.
“Iya, cerita aja lagi…” Sambung Rina.
“Aku bingung, aku juga sedih nih” Tutur Gita.
“Kamu sedih dan bingung kenapa Git?” Tanya Rina.
“Aku sedih, perusahaan papaku sedang goyah. Aku sedih melihat papa ku yang setiap hari sibuk, berusaha agar perusahaannya tidak bangkrut karena perusahaannya kena kasus penipuan.” Ucap Gita bercerita.
“Lalu kamu bingung kenapa?” Tanya Syita kepada Gita.
“Aku bingung, bagaimana caranya agar aku bias membantu orang tua ku menghadapi masalah ini. Untuk urusan pekerjaan yang seperti itu aku kurang mengerti” Gita membalas.
“Kenapa kamu nggak coba buat nyemangatin orang tua mu? Ya… mungkin kamu tidak langsung bisa membantu menyelesaikan masalah itu tetapi setidaknya kamu bisa bikin mereka lebih semangat” Saran Syita kepada Gita.
“Iya, bener juga kata Syita. Nyemangatin orang kan seperti membantu secara tidak langsung. Orang tua kita pasti lebih semangat kalau di dukung anaknya” Rina menambahkan ucapan Syita.
“Iya ya… Tak ada salahnya akau mencoba ! Terimakasih ya Rin, Syita” Gita membalas ucapan mereka
“Iya… Udah sewajarnya kita seperti ini!” Jawab Syita.
“Kan kita sahabat!” Sambung Rina.
            Mereka melanjutkan menikmati indahnya pantai Ilalang hingga matahari terbenam. Dan mereka mengabadikan indahnya matahari terbenam itu dan saling bercanda dan bermain-main.
            Di sekolah mereka selalu pergi ke kantin bersamaan, walaupun mereka beda kelas tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Hari demi hari mereka lalu. Dan kurang lebih setelah 4 bulan Gita bercerita tentang ayahnya, malamnya Gita menelpon kedua sahabatnya dengan menggunakan conference call.
“Syita, Rina….” Gita menelpon sambil menangis.
“Kamu kenapa git?” Rina menjawab dengan kaget dan bingung.
“Perusahaan papaku bangkrut Rin” Gita menjawab.
“Astaga, terus bagaimana sekarang?” Tanya Syita.
“Aku masih tinggal di rumah yang sama, hanya saja kekayaan yang dimiliki papa ku sudah nggak kaya dulu lagi” Gita bercerita.
“Kamu yang tabah ya Git, maaf kalau kita nggak bisa bantu apa-apa” Sahut Rina.
“Iya, maaf ya Git. Kami turus sedih atas kejadian yang menimpa mu” Lanjut Syita.
“Iya gak papa kok, besok sepertinya akau nggak sekolah. Tolong izinin aku ya, aku mau berkumpul bersama keluarga ku dan menangkan diri” Pinta Gita kepada sahabatnya.
“Iya Gita, tenang aja…” Jawab Syita.
“Yaudah kalau gitu, makasi ya Rina, Syita. Bye…" Kata Gita sebelum menutup telepon.
            Keesokan harinya Syita dan Rina bertemu di sekolah dan memberitahukan pengurus kelas Gita bahwa Gita tidak sekolah. Dan pada saat jam istirahat mereka berdua berbincang-bincang.
“Kasihan Gita ya Rin…” Ujar Syita.
“Iya… Kasihan Gita, mudahan aja keluarganya bias tabah ngejalanin ini semua” Balas Rina.
“Tapi, aku yakin kok kalau Gita bisa, dia pasti bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya yang nggak seperti dulu” Ucap Syita dengan yakin.
“Iya, dia kan dari dulu nggk pernah sombong, dia orang yang sederhana” Balas Rina.
            Tak lama 3 hari kemudian Gita sudah masuk sekolah kembali. Dan tidak ada hal yang aneh pada diri Gita, maupun kesedihan yang tampak pada dirinya. Bahkan hampir satu sekolah mengetahui apa yang sedang di alami Gita. Semua murid melihat Gita, tetapi Gita tidak menghiraukan mereka, ia bersikap seperti biasanya, seakan-akan tidak ada terjadi apa-apa pada dirinya. Dan salah seorang teman Rina di kelas membicarakan Gita yang tidak nampak sedih sedikitpun atau berubah.
“Git, tadi di kelas ada teman ku yang membicarakan kamu loh….” Kata Rina pada saat jam istirahat di taman sekolah.
“Mereka bilang apa?” Gita penasaran.
“Ya… Mereka bingung, bingung dengan kamu yang seakan-akan tak terjadi apa-apa” Balas Rina.
“Iya, biasanya kan ada tuh anak yang biasanya hidup mewah terus tiba-tiba berubah kondisi kehidupannya jadi stress gitu” Sambung Syita.
“Ya… Ngapain harus diperlihatkan rasa sedih kita, ya… kita juga harus bisa beradapatasi dengan semuanya. Semua ini kan hanya titipan Tuhan. Toh kehiduapan juga seperti roda yang berputar, kadang di atas dan kadang juga di bawah” Jelas Gita kepada sahabatnya.

            Kedua orang sahabatanya itu setuju dengan perkataan Gita, kehidupan itu seperti roda yang sedang berputar. Gita dan keluarganya menerima cobaan dari Tuhan dengan ikhlas dan menjalankan kehidupan seperti biasa walaupun itu bukan hal yang mudah tetapi mereka mencoba. Dan kisah persahabtan mereka terus berlanjut tanpa ada rasa canggung atau yang lainnya hingga mereka lulus SMA dan harus berpisah cukup jauh untuk melanjutkan kuliah.

Karya : Dinda Rini Asri