Pada
saat jam istirahat Rina dan sahabat-sahabatnya berdiskusi soal tempat yang akan
mereka kunjungi mala mini. Ya… wajarlah hari ini hari sabtu, dimana biasanya
anak-anak muda pada hang-out bersama teman-temannya di sabtu malam.
“Jadi,
kita kemana malam ini?” Tanya Gita
kepada teman-temannya.
“Kemana
ya enakya? Hmmm….” Rina menjawab.
“Bagaimana,
kalau kita ke restaurant Mayo-Mayi dekat sekolah sini?” Tawar Syita.
“Hmmm…
Bisa juga! Jam berapa kita bertemu di sana?” Tanya Gita kembali.
“Jam
7 malam saja, tapi jam 7 itu kita semua sudah berkumpul di sana ya! Itu kan
restaurant baru, jadi biasanya ramai” Rina menjawab.
Kring… Kring… Kring…. Bel masuk
kelas pun berbunyi. Rina dan sahabat-sahabatnya pun masuk ke kelas untuk
melanjutkan pembelajaran. Tak terasa jam dinding di kelas sudah menunjukan
pukul 2 siang dan tak lama bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siwa segera
keluar dari kelas dan bergegas untuk pulang.
“Ingat
jam 7 nanti ya !” Sorak Rina kepada sahabat-sahabatnya di parkiran sekolah.
“Oke…!”
Jawab mereka.
Jam menunjukan pukul 6 sore.
“Aduh!
Mendung lagi! Jam segini!” Geram Rina marah.
“Duh…
Bagaimana ini? Kira-kira hujan nggak ya?” Rina berkata dalam hati sambil
mondar-mandir dan melihat jendela kamarnya.
“Lebih
baik aku mandi sekarang! Daripada ntar keburu hujan”
Sesampainya di restaurant yang
mereka janjikan, restaurant Mayo-Mayi.
“Hi…
Girls! Maaf ya aku agak telat, soalnya tadi aku nunggu papaku dulu. Aku
berangkat bareng dia” Sapa Syita kepada kedua orang sahabatnya itu.
“Iya…
gak papa kok, santai aja. Yang penting kamu datang” Jawab Rina kepada
sahabatnya.
“Oh…
ya! Tumben banget nih kita cepat datang. Ada apa?” Ucap Syita.
“Aku
takut ntar keburu hujan, tadi di rumahku mendung” Jawab Gita.
“Iya
nih! Aku juga, takut ntar nggak jadi pergi” Sambung Rina menjawab Syita.
Mereka memesan makanan dan minuman.
Dan mereka berbincang-bincang mengenai pacar, ekskul, keluarga, kegiatan mereka
dan lain-lain. Mereka saling bercerita tentang semuanya satu sama lain. Tak ada
yang mereka tutupi, ya… wajarlah mereka memang bersahabat sejak mereka duduk di
bangku kelas 5 SD.
Saat sedang asyik mengobrol dan
menikmati makanan dan minuman.
“Eh…
nyadar gak sih?” Tanya Gita.
“Apa?
Nyadar apa?” Tanya Syita kembali.
“Kalau
gak jadi turun hujan” Jawab Gita.
“Iya
ya, bener nggak jadi turun hujan” Sahut Rina.
“Biasanya
turun hujan kan kalau udah mendung, tapi kali ini tumben banget” Kata Gita.
“Iya
bener banget tuh….” Rina membalas.
Saking asiknya mengobrol mereka
smpai tak tahu waktu. Tak terasa sudah 2 jam mereka berada di sana, dan malam
mulai gelap dan jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Pulang
yuk… sudah malam nih” Ajakan Rina kepada tmen-temannya.
“Iya…
Yuk kita pulang” Sahut Syita.
Mereka
pun pulang ke rumah masing-masing, dan mereka bersistirahat semsampainya di
rumah.
Keesekoannya harinya mereka
berkumpul kembali, tetapi tidak resataurant atau mall. Hari itu mereka
memutuskan untuk back to nature.
Mungkin mereka bosan dengan keaadaan kota yang dikelilingi dengan gedung-gedung
perkantoran, mall, jalanan yang macet, polusi, dan udara yang panas. Kali ini
mereka pergi ke pantai, mereka pergi ke pantai Ilalang. Pantai tersebut sangat
indah dan tak sedikit orang yang ingin pergi ke sana.
“Bagus
banget ya pantainya!” Ungkap Gita
“Iya,
bener banget” Balas Rina.
“Yuk…
foto yuk…!” Ajak Gita.
“Ayo…!”
Jawab Syita kepada Gita.
Mereka asik berfotoan, berenang, snorkeling dan ada juga yang berjemur.
Dari mereka bertiga Gita lah yang paling cerewet, ya bias dibilang seperti itu.
Ia adalah anak yang periang, suka bercanda, menjahili teman-temannya, bahkan
sahabat-sahabatnya pun hampir tidak pernah melihat Gita menangis ataupun sedih.
Gita memang anak orang kaya, ayahnya
adalah seorang penguasaha terkenal dan ia juga cukup pintar. Tapi hal yang
disenangi dari sahabat-sahabatnya adalah ia tidak sombong. Ia sangat ramah,
baik, dan mau memabantu siapa pun, walaupun orang yang dibantunya tidak
sederajat dengan dia.
Disaat sedang asyik menikmati
suasana pantai, Gita bercerita kepada 2 sahabatnya.
“Syita,
Rina. Aku mau cerita nih sama kalian” Ucap Gita kepada sahabatnya itu.
“Iya
cerita apa Git?” Tanya Syita.
“Iya,
cerita aja lagi…” Sambung Rina.
“Aku
bingung, aku juga sedih nih” Tutur Gita.
“Kamu
sedih dan bingung kenapa Git?” Tanya Rina.
“Aku
sedih, perusahaan papaku sedang goyah. Aku sedih melihat papa ku yang setiap
hari sibuk, berusaha agar perusahaannya tidak bangkrut karena perusahaannya
kena kasus penipuan.” Ucap Gita bercerita.
“Lalu
kamu bingung kenapa?” Tanya Syita kepada Gita.
“Aku
bingung, bagaimana caranya agar aku bias membantu orang tua ku menghadapi
masalah ini. Untuk urusan pekerjaan yang seperti itu aku kurang mengerti” Gita
membalas.
“Kenapa
kamu nggak coba buat nyemangatin orang tua mu? Ya… mungkin kamu tidak langsung
bisa membantu menyelesaikan masalah itu tetapi setidaknya kamu bisa bikin
mereka lebih semangat” Saran Syita kepada Gita.
“Iya,
bener juga kata Syita. Nyemangatin orang kan seperti membantu secara tidak
langsung. Orang tua kita pasti lebih semangat kalau di dukung anaknya” Rina
menambahkan ucapan Syita.
“Iya
ya… Tak ada salahnya akau mencoba ! Terimakasih ya Rin, Syita” Gita membalas
ucapan mereka
“Iya…
Udah sewajarnya kita seperti ini!” Jawab Syita.
“Kan
kita sahabat!” Sambung Rina.
Mereka melanjutkan menikmati
indahnya pantai Ilalang hingga matahari terbenam. Dan mereka mengabadikan
indahnya matahari terbenam itu dan saling bercanda dan bermain-main.
Di sekolah mereka selalu pergi ke
kantin bersamaan, walaupun mereka beda kelas tetapi hal itu tidak menjadi
masalah bagi mereka. Hari demi hari mereka lalu. Dan kurang lebih setelah 4
bulan Gita bercerita tentang ayahnya, malamnya Gita menelpon kedua sahabatnya
dengan menggunakan conference call.
“Syita,
Rina….” Gita menelpon sambil menangis.
“Kamu
kenapa git?” Rina menjawab dengan kaget dan bingung.
“Perusahaan
papaku bangkrut Rin” Gita menjawab.
“Astaga,
terus bagaimana sekarang?” Tanya Syita.
“Aku
masih tinggal di rumah yang sama, hanya saja kekayaan yang dimiliki papa ku
sudah nggak kaya dulu lagi” Gita bercerita.
“Kamu
yang tabah ya Git, maaf kalau kita nggak bisa bantu apa-apa” Sahut Rina.
“Iya,
maaf ya Git. Kami turus sedih atas kejadian yang menimpa mu” Lanjut Syita.
“Iya
gak papa kok, besok sepertinya akau nggak sekolah. Tolong izinin aku ya, aku
mau berkumpul bersama keluarga ku dan menangkan diri” Pinta Gita kepada
sahabatnya.
“Iya
Gita, tenang aja…” Jawab Syita.
“Yaudah
kalau gitu, makasi ya Rina, Syita. Bye…"
Kata Gita sebelum menutup telepon.
Keesokan harinya Syita dan Rina
bertemu di sekolah dan memberitahukan pengurus kelas Gita bahwa Gita tidak
sekolah. Dan pada saat jam istirahat mereka berdua berbincang-bincang.
“Kasihan
Gita ya Rin…” Ujar Syita.
“Iya…
Kasihan Gita, mudahan aja keluarganya bias tabah ngejalanin ini semua” Balas
Rina.
“Tapi,
aku yakin kok kalau Gita bisa, dia pasti bisa beradaptasi dengan kehidupan
barunya yang nggak seperti dulu” Ucap Syita dengan yakin.
“Iya,
dia kan dari dulu nggk pernah sombong, dia orang yang sederhana” Balas Rina.
Tak lama 3 hari kemudian Gita sudah
masuk sekolah kembali. Dan tidak ada hal yang aneh pada diri Gita, maupun
kesedihan yang tampak pada dirinya. Bahkan hampir satu sekolah mengetahui apa
yang sedang di alami Gita. Semua murid melihat Gita, tetapi Gita tidak
menghiraukan mereka, ia bersikap seperti biasanya, seakan-akan tidak ada
terjadi apa-apa pada dirinya. Dan salah seorang teman Rina di kelas
membicarakan Gita yang tidak nampak sedih sedikitpun atau berubah.
“Git,
tadi di kelas ada teman ku yang membicarakan kamu loh….” Kata Rina pada saat
jam istirahat di taman sekolah.
“Mereka
bilang apa?” Gita penasaran.
“Ya…
Mereka bingung, bingung dengan kamu yang seakan-akan tak terjadi apa-apa” Balas
Rina.
“Iya,
biasanya kan ada tuh anak yang biasanya hidup mewah terus tiba-tiba berubah
kondisi kehidupannya jadi stress gitu” Sambung Syita.
“Ya…
Ngapain harus diperlihatkan rasa sedih kita, ya… kita juga harus bisa
beradapatasi dengan semuanya. Semua ini kan hanya titipan Tuhan. Toh kehiduapan
juga seperti roda yang berputar, kadang di atas dan kadang juga di bawah” Jelas
Gita kepada sahabatnya.
Kedua orang sahabatanya itu setuju
dengan perkataan Gita, kehidupan itu seperti roda yang sedang berputar. Gita
dan keluarganya menerima cobaan dari Tuhan dengan ikhlas dan menjalankan
kehidupan seperti biasa walaupun itu bukan hal yang mudah tetapi mereka
mencoba. Dan kisah persahabtan mereka terus berlanjut tanpa ada rasa canggung
atau yang lainnya hingga mereka lulus SMA dan harus berpisah cukup jauh untuk
melanjutkan kuliah.
Karya : Dinda Rini Asri
No comments:
Post a Comment