Monday, 1 December 2014

Cerita Pendek (cerpen) " Mendung Tak Selalu Hujan "

Pada saat jam istirahat Rina dan sahabat-sahabatnya berdiskusi soal tempat yang akan mereka kunjungi mala mini. Ya… wajarlah hari ini hari sabtu, dimana biasanya anak-anak muda pada hang-out bersama teman-temannya di sabtu malam.
“Jadi, kita kemana malam ini?”  Tanya Gita kepada teman-temannya.
“Kemana ya enakya? Hmmm….” Rina menjawab.
“Bagaimana, kalau kita ke restaurant Mayo-Mayi dekat sekolah sini?” Tawar Syita.
“Hmmm… Bisa juga! Jam berapa kita bertemu di sana?” Tanya Gita kembali.
“Jam 7 malam saja, tapi jam 7 itu kita semua sudah berkumpul di sana ya! Itu kan restaurant baru, jadi biasanya ramai” Rina menjawab.
            Kring… Kring… Kring…. Bel masuk kelas pun berbunyi. Rina dan sahabat-sahabatnya pun masuk ke kelas untuk melanjutkan pembelajaran. Tak terasa jam dinding di kelas sudah menunjukan pukul 2 siang dan tak lama bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua siwa segera keluar dari kelas dan bergegas untuk pulang.
“Ingat jam 7 nanti ya !” Sorak Rina kepada sahabat-sahabatnya di parkiran sekolah.
“Oke…!” Jawab mereka.
            Jam menunjukan pukul 6 sore.
“Aduh! Mendung lagi! Jam segini!” Geram Rina marah.
“Duh… Bagaimana ini? Kira-kira hujan nggak ya?” Rina berkata dalam hati sambil mondar-mandir dan melihat jendela kamarnya.
“Lebih baik aku mandi sekarang! Daripada ntar keburu hujan”
            Sesampainya di restaurant yang mereka janjikan, restaurant Mayo-Mayi.
“Hi… Girls! Maaf ya aku agak telat, soalnya tadi aku nunggu papaku dulu. Aku berangkat bareng dia” Sapa Syita kepada kedua orang sahabatnya itu.
“Iya… gak papa kok, santai aja. Yang penting kamu datang” Jawab Rina kepada sahabatnya.
“Oh… ya! Tumben banget nih kita cepat datang. Ada apa?” Ucap Syita.
“Aku takut ntar keburu hujan, tadi di rumahku mendung” Jawab Gita.
“Iya nih! Aku juga, takut ntar nggak jadi pergi” Sambung Rina menjawab Syita.
            Mereka memesan makanan dan minuman. Dan mereka berbincang-bincang mengenai pacar, ekskul, keluarga, kegiatan mereka dan lain-lain. Mereka saling bercerita tentang semuanya satu sama lain. Tak ada yang mereka tutupi, ya… wajarlah mereka memang bersahabat sejak mereka duduk di bangku kelas 5 SD.
            Saat sedang asyik mengobrol dan menikmati makanan dan minuman.
“Eh… nyadar gak sih?” Tanya Gita.
“Apa? Nyadar apa?” Tanya Syita kembali.
“Kalau gak jadi turun hujan” Jawab Gita.
“Iya ya, bener nggak jadi turun hujan” Sahut Rina.
“Biasanya turun hujan kan kalau udah mendung, tapi kali ini tumben banget” Kata Gita.
“Iya bener banget tuh….” Rina membalas.
            Saking asiknya mengobrol mereka smpai tak tahu waktu. Tak terasa sudah 2 jam mereka berada di sana, dan malam mulai gelap dan jam pun sudah menunjukkan pukul 10 malam.
“Pulang yuk… sudah malam nih” Ajakan Rina kepada tmen-temannya.
“Iya… Yuk kita pulang” Sahut Syita.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, dan mereka bersistirahat semsampainya di rumah.
            Keesekoannya harinya mereka berkumpul kembali, tetapi tidak resataurant atau mall. Hari itu mereka memutuskan untuk back to nature. Mungkin mereka bosan dengan keaadaan kota yang dikelilingi dengan gedung-gedung perkantoran, mall, jalanan yang macet, polusi, dan udara yang panas. Kali ini mereka pergi ke pantai, mereka pergi ke pantai Ilalang. Pantai tersebut sangat indah dan tak sedikit orang yang ingin pergi ke sana.
“Bagus banget ya pantainya!” Ungkap Gita
“Iya, bener banget” Balas Rina.
“Yuk… foto yuk…!” Ajak Gita.
“Ayo…!” Jawab Syita kepada Gita.
            Mereka asik berfotoan, berenang, snorkeling dan ada juga yang berjemur. Dari mereka bertiga Gita lah yang paling cerewet, ya bias dibilang seperti itu. Ia adalah anak yang periang, suka bercanda, menjahili teman-temannya, bahkan sahabat-sahabatnya pun hampir tidak pernah melihat Gita menangis ataupun sedih.
            Gita memang anak orang kaya, ayahnya adalah seorang penguasaha terkenal dan ia juga cukup pintar. Tapi hal yang disenangi dari sahabat-sahabatnya adalah ia tidak sombong. Ia sangat ramah, baik, dan mau memabantu siapa pun, walaupun orang yang dibantunya tidak sederajat dengan dia.
            Disaat sedang asyik menikmati suasana pantai, Gita bercerita kepada 2 sahabatnya.
“Syita, Rina. Aku mau cerita nih sama kalian” Ucap Gita kepada sahabatnya itu.
“Iya cerita apa Git?” Tanya Syita.
“Iya, cerita aja lagi…” Sambung Rina.
“Aku bingung, aku juga sedih nih” Tutur Gita.
“Kamu sedih dan bingung kenapa Git?” Tanya Rina.
“Aku sedih, perusahaan papaku sedang goyah. Aku sedih melihat papa ku yang setiap hari sibuk, berusaha agar perusahaannya tidak bangkrut karena perusahaannya kena kasus penipuan.” Ucap Gita bercerita.
“Lalu kamu bingung kenapa?” Tanya Syita kepada Gita.
“Aku bingung, bagaimana caranya agar aku bias membantu orang tua ku menghadapi masalah ini. Untuk urusan pekerjaan yang seperti itu aku kurang mengerti” Gita membalas.
“Kenapa kamu nggak coba buat nyemangatin orang tua mu? Ya… mungkin kamu tidak langsung bisa membantu menyelesaikan masalah itu tetapi setidaknya kamu bisa bikin mereka lebih semangat” Saran Syita kepada Gita.
“Iya, bener juga kata Syita. Nyemangatin orang kan seperti membantu secara tidak langsung. Orang tua kita pasti lebih semangat kalau di dukung anaknya” Rina menambahkan ucapan Syita.
“Iya ya… Tak ada salahnya akau mencoba ! Terimakasih ya Rin, Syita” Gita membalas ucapan mereka
“Iya… Udah sewajarnya kita seperti ini!” Jawab Syita.
“Kan kita sahabat!” Sambung Rina.
            Mereka melanjutkan menikmati indahnya pantai Ilalang hingga matahari terbenam. Dan mereka mengabadikan indahnya matahari terbenam itu dan saling bercanda dan bermain-main.
            Di sekolah mereka selalu pergi ke kantin bersamaan, walaupun mereka beda kelas tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Hari demi hari mereka lalu. Dan kurang lebih setelah 4 bulan Gita bercerita tentang ayahnya, malamnya Gita menelpon kedua sahabatnya dengan menggunakan conference call.
“Syita, Rina….” Gita menelpon sambil menangis.
“Kamu kenapa git?” Rina menjawab dengan kaget dan bingung.
“Perusahaan papaku bangkrut Rin” Gita menjawab.
“Astaga, terus bagaimana sekarang?” Tanya Syita.
“Aku masih tinggal di rumah yang sama, hanya saja kekayaan yang dimiliki papa ku sudah nggak kaya dulu lagi” Gita bercerita.
“Kamu yang tabah ya Git, maaf kalau kita nggak bisa bantu apa-apa” Sahut Rina.
“Iya, maaf ya Git. Kami turus sedih atas kejadian yang menimpa mu” Lanjut Syita.
“Iya gak papa kok, besok sepertinya akau nggak sekolah. Tolong izinin aku ya, aku mau berkumpul bersama keluarga ku dan menangkan diri” Pinta Gita kepada sahabatnya.
“Iya Gita, tenang aja…” Jawab Syita.
“Yaudah kalau gitu, makasi ya Rina, Syita. Bye…" Kata Gita sebelum menutup telepon.
            Keesokan harinya Syita dan Rina bertemu di sekolah dan memberitahukan pengurus kelas Gita bahwa Gita tidak sekolah. Dan pada saat jam istirahat mereka berdua berbincang-bincang.
“Kasihan Gita ya Rin…” Ujar Syita.
“Iya… Kasihan Gita, mudahan aja keluarganya bias tabah ngejalanin ini semua” Balas Rina.
“Tapi, aku yakin kok kalau Gita bisa, dia pasti bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya yang nggak seperti dulu” Ucap Syita dengan yakin.
“Iya, dia kan dari dulu nggk pernah sombong, dia orang yang sederhana” Balas Rina.
            Tak lama 3 hari kemudian Gita sudah masuk sekolah kembali. Dan tidak ada hal yang aneh pada diri Gita, maupun kesedihan yang tampak pada dirinya. Bahkan hampir satu sekolah mengetahui apa yang sedang di alami Gita. Semua murid melihat Gita, tetapi Gita tidak menghiraukan mereka, ia bersikap seperti biasanya, seakan-akan tidak ada terjadi apa-apa pada dirinya. Dan salah seorang teman Rina di kelas membicarakan Gita yang tidak nampak sedih sedikitpun atau berubah.
“Git, tadi di kelas ada teman ku yang membicarakan kamu loh….” Kata Rina pada saat jam istirahat di taman sekolah.
“Mereka bilang apa?” Gita penasaran.
“Ya… Mereka bingung, bingung dengan kamu yang seakan-akan tak terjadi apa-apa” Balas Rina.
“Iya, biasanya kan ada tuh anak yang biasanya hidup mewah terus tiba-tiba berubah kondisi kehidupannya jadi stress gitu” Sambung Syita.
“Ya… Ngapain harus diperlihatkan rasa sedih kita, ya… kita juga harus bisa beradapatasi dengan semuanya. Semua ini kan hanya titipan Tuhan. Toh kehiduapan juga seperti roda yang berputar, kadang di atas dan kadang juga di bawah” Jelas Gita kepada sahabatnya.

            Kedua orang sahabatanya itu setuju dengan perkataan Gita, kehidupan itu seperti roda yang sedang berputar. Gita dan keluarganya menerima cobaan dari Tuhan dengan ikhlas dan menjalankan kehidupan seperti biasa walaupun itu bukan hal yang mudah tetapi mereka mencoba. Dan kisah persahabtan mereka terus berlanjut tanpa ada rasa canggung atau yang lainnya hingga mereka lulus SMA dan harus berpisah cukup jauh untuk melanjutkan kuliah.

Karya : Dinda Rini Asri

No comments:

Post a Comment